Arief Poyuono: Program MBG Strategi Investasi Bangsa, Bukan Sekadar Beban Fiskal

 


ERQITA NEWS ​JAKARTA – Politikus Partai Gerindra, Arief Poyuono, menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar pembagian makanan cuma-cuma. Menurutnya, program ini merupakan strategi ekonomi sekaligus kebijakan pembangunan manusia yang krusial bagi masa depan Indonesia.

​"Dalam kerangka PDB (Produk Domestik Bruto), MBG mungkin tercatat sebagai belanja negara. Namun dalam makna yang lebih dalam, ia adalah investasi bangsa," ujar Arief dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

​Mengubah Perspektif Fiskal Menjadi Investasi

​Arief, yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Pelabuhan Indonesia (Persero), menjelaskan bahwa jika MBG hanya dilihat sebagai belanja rutin, maka program ini akan dianggap sebagai beban fiskal. Sebaliknya, jika ditempatkan sebagai investasi pembangunan manusia, MBG berubah menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi.

​Investasi pada kualitas SDM melalui pemenuhan gizi di usia sekolah terbukti mampu:

  • ​Meningkatkan konsentrasi belajar dan kehadiran siswa.
  • ​Memperkuat perkembangan kognitif.
  • ​Mendorong produktivitas tenaga kerja di masa depan.

​"Ketika produktivitas naik, pendapatan masyarakat meningkat. Hal ini akan mendorong konsumsi rumah tangga (C) dalam rumus PDB, sekaligus memperbesar komponen investasi (I) secara simultan," jelasnya.

​Dampak Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Pajak

​Lebih lanjut, Arief memaparkan bahwa penguatan ekonomi domestik melalui MBG akan memperluas basis pajak tanpa perlu menaikkan tarif. Dengan ekonomi yang lebih sehat, kapasitas fiskal negara justru akan menguat secara alami.

​Di tengah ketidakpastian global, Arief menilai instrumen domestik seperti MBG menjadi sangat vital. Tanpa pengungkit internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko tertahan di level 4–5%.

​"Dengan dorongan konsumsi domestik dan peningkatan produktivitas akibat investasi gizi, proyeksi pertumbuhan 2025 di angka 5,39% menjadi jauh lebih realistis," tambahnya.

​Potensi Multiplier Effect dan Penciptaan Lapangan Kerja

​Mengutip data internasional dari UNICEF dan Bank Dunia, Arief mengungkapkan bahwa setiap $1 yang diinvestasikan dalam program makan sekolah dapat menghasilkan manfaat ekonomi antara $4 hingga $35.

​Secara spesifik, program ini memberikan dampak nyata bagi ekonomi lokal melalui:

  1. Penciptaan Lapangan Kerja: Diperkirakan setiap 100.000 anak yang dilayani program ini mampu menciptakan sekitar 1.591 lapangan kerja baru.
  2. Pemberdayaan UMKM: Meningkatkan permintaan terhadap produk pertanian, nelayan, dan pelaku UMKM pangan.
  3. Sektor Logistik: Menghidupkan rantai pasok dari produsen lokal ke dapur-dapur sekolah.

​"Dapur sekolah akan menjadi simpul ekonomi baru. MBG tidak berhenti di ruang kelas, tapi menyentuh petani hingga sektor logistik. Di Indonesia yang basis pertaniannya luas, potensi multiplier effect ini sangat signifikan," pungkasnya.

(**)