VIRAL! Perempuan Asal Cianjur Menangis Bersimbah Darah di Libya, Mengaku Tak Digaji dan Minta Tolong Presiden

 

ERQITA NEWS Cianjur – Jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya video berdurasi sekitar 59 detik yang memperlihatkan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) paruh baya dalam kondisi memprihatinkan. Dalam rekaman video yang beredar pada Selasa (23/6/2026) tersebut, tampak luka di bagian kening hingga area mata korban yang diduga mengeluarkan darah.

​Sambil menahan tangis, perempuan itu menyampaikan permohonan bantuan kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia mengaku tidak menerima gaji selama tiga bulan dan sudah tidak sanggup menjalani beban pekerjaan yang diberikan.

​"Assalamualaikum, saya hanya ingin minta tolong. Saya tidak digaji selama tiga bulan. Tolong Bapak Presiden, KDM (Kang Dedi Mulyadi). Saya sudah tidak sanggup kerja bolak-balik dua rumah. Saya sering sakit. Kalau pulang ke kantor saya takut, saya pernah dimarahi," ucap perempuan tersebut terisak.


​Berdasarkan informasi yang dihimpun, perempuan tersebut diduga merupakan warga Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang saat ini berada di Libya. Korban disinyalir berangkat ke negara konflik tersebut melalui jalur nonprosedural atau ilegal.

​Beredar kabar bahwa korban direkrut oleh seorang sponsor lokal berinisial D, sementara proses keberangkatannya ke luar negeri diduga difasilitasi oleh pihak lain berinisial L yang berasal dari wilayah Sukabumi. Kendati demikian, informasi mengenai identitas perekrut ini masih memerlukan verifikasi dan penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.

​Jika dugaan ini benar, kasus tersebut berpotensi kuat mengarah pada praktik penempatan pekerja migran secara ilegal yang berujung pada eksploitasi, pelanggaran hak pekerja, hingga Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

​Video pilu ini pun langsung memicu keprihatinan sekaligus desakan luas dari publik. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana seorang warga negara Indonesia bisa lolos dan bekerja di negara yang memiliki risiko keamanan tinggi bagi pekerja migran.

​Masyarakat mendesak Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Kementerian Luar Negeri, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terkait untuk segera turun tangan melacak keberadaan korban. Selain untuk menyelamatkan korban, aparat penegak hukum juga diminta mengusut tuntas sindikat yang memberangkatkannya.

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak keluarga korban maupun instansi pemerintah terkait mengenai identitas lengkap, lokasi pasti korban di Libya, serta kronologi keberangkatannya.

​Sementara itu, gelombang simpati dan perhatian publik di media sosial terus mengalir, berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah taktis untuk menyelamatkan nyawa warga negara tersebut.

(Suparman)